Demi Mudik Lebaran

Alhamdulillah, lebaran kali ini kami berkesempatan mudik, membersamai keluarga di hari nan fitri. Tidak tanggung-tanggung, dua minggu saya dan si kecil Fiza akan tinggal di Jogja. Ini hasil jerih payah menabung cuti 9 hari.

Demimudiklebaran (1)

Saya sebenarnya sudah mengincar tiket mudik sejak lama. Tapi, hal ini saya urungkan karena menunggu kepastian Fiza tinggal di Singapura. Jadi, baru 2 bulan sebelum hari H, saya bisa membeli tiket mudik. Tiket Air Asia Singapura-Jogja langganan saya sudah sangat mahal. Waktu itu sudah mencapai 399 SGD per kepala, dan ini baru satu arah, yaitu Singapura-Jogja. Belum lagi kalau ingin ditambah bagasi.

Saya pun mencoba mencari alternatif lain. Saya juga menimbang penerbangan yang mendarat di Semarang maupun Solo, kemudian bisa dilanjutkan lewat jalan darat. Air Asia Singapura-Semarang yang biasanya lebih murah daripada tujuan Jogja ternyata sama mahalnya. Kalau yang tujuan Jogja saja sudah saya coret dari opsi, tentunya tujuan Semarang pun saya coret karena dengan harga sama mahal saya masih harus menempuh jalan darat. Air Asia Singapura-Solo sudah tidak ada, tetapi masih ada maskapai versi budget nya Singapore Airlines, yaitu Silk Air. Tetapi, harga tiketnya sudah aduhai, satu orang return ticket di harga 700an SGD. Saya pun langsung mlipir.

Segera saya meluncur ke traveloka.com, kali-kali masih ada harapan. Website ini sudah terbukti beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya dengan membukakan mata saya bahwa selalu ada alternatif yang lebih murah. Benar saja, ternyata ada tiket Garuda yang masih masuk akal untuk ukuran mudik ke Jogja. Tak lupa saya tetap membandingkan harga tiket di website resmi Garuda, yang entah mengapa malah lebih mahal.

Setelah mendapatkan ijin dari suami, saya segera membeli tiket sebelum harganya semakin melambung. Bismillah, dengan menangis tersedu-sedu saya ikhlaskan uang sekian untuk membayar tiket mudik. Cukup menguras memang, tapi demi lebaran di kampung halaman.

Keseruan mudik saya akan dimulai hari Ahad ini. Mudik perdana bareng Fiza, transit Jakarta pula! Semangat!

Selamat mudik semuanya!!!

Hidup Bersama Manusia Berpopok

Bukanlah impian saya untuk menjalani LDR ketika sudah berkeluarga, apalagi sudah mempunyai si kecil. Tetapi, episode ini lagi-lagi harus dijalani. Berhubung nggak tahan pisah lama dengan Fiza, saya membulatkan tekad untuk membawanya ke Singapura.

Banyak yang mempertanyakan keputusan ini. Teman dekat, rekan kerja, maupun keluarga besar turut mengungkapkan pendapat dan kecemasannya. Pertanyaan berkisar kesiapan saya. Bisakah saya menjaga Fiza sementara harus bekerja full-time? Bagaimana menyiapkan makan buat Fiza? Bagaimana jika nanti Fiza sakit, atau malah saya yang sakit? Untungnya saya keras kepala waktu itu, saya yakin bisa menjaga Fiza dengan baik. Naluri sebagai ibu lebih kuat, ibu mana yang ingin jauh dari anaknya.

Berangkat sekolahSetelah berbagai tentangan dan drama, hehehe … Fiza sampai juga di Singapura.

Adaptasi di minggu-minggu awal tidaklah mudah. Fiza masih merasa asing dengan tempat tinggal barunya sehingga saya tidak leluasa beraktivitas. Ke mana-mana, Fiza nempel. Terkadang masak ataupun bersih-bersih harus sambil menggendong Fiza. Alhasil, malam hari kami tepar bersama. Baru tengah minggu saja, ingin rasanya segera merasakan akhir pekan.

Di sekolah pun Fiza juga sering menangis. Setiap diantar ke sekolah, tangisnya meledak ketika memasuki pintu gerbang sekolah. Memanggil-manggil ibu ketika saya melangkah pergi. Ketika kegiatan sekolah, masih murung dan sesekali menangis. Tetapi, alhamdulillah … Fiza gampang makan dan tidur siangnya, sehingga saya tidak terlalu khawatir.

“This too shall pass.”
Begitu kalimat yang sering digunakan untuk menyemangati para mahmud (red: mama muda) kekinian.

Betul saja. Tak genap tiga minggu Fiza sudah enjoy dengan suasana baru nya. Di sekolah sudah tidak pernah menangis lagi. Sesampai di sekolah langsung disambut teman-temannya untuk bermain bersama. Di rumah sudah asyik main dengan abang-abangnya (red: anaknya Bu Kos). Saya pun lebih leluasa menyelesaikan pekerjaan rumah: masak, cuci piring, cuci baju, setrika, mandi, menyapu, mengepel, dll. Hehehe … sok sibuk.

Setelah rutinitas terbentuk, saya pun sekarang sudah bisa memikirkan aktivitas apa atau jalan-jalan ke mana ketika akhir pekan. Sebelumnya, boro-boro … akhir pekan adalah waktunya menarik napas, beristirahat, dan mengatur tenaga menyiapkan maraton untuk pekan depan. Lebay! 😀

Saya banyak bersyukur di episode kali ini. Begitu banyak kemudahan yang telah dianugerahkan. Mulai dari suami yang sabar, ibu kos yang baik hati, kepala sekolah di childcare-nya Fiza yang supportive, bapak bos yang toleran, dan ditambah waktu kerja yang fleksibel. Semuanya ini memungkinkan saya bisa hidup bersama dengan Fiza, si manusia berpopok. 🙂

P.S. Sehat-sehat ya, Dek!

Cabut Gigi Geraham Bungsu

Sebenarnya sudah sejak lama, saya direkomendasikan untuk cabut gigi geraham bungsu saya. Kata pak dokter gigi waktu itu adalah posisinya yang kurang bagus karena tumbuh keluar. Polosnya saya, saya pikir setiap gigi ada fungsinya, masak gara-gara salah posisi saja harus dicabut, lagian kan nggak bikin sakit.

Tetapi seiring berjalannya waktu, gigi belakang saya sering sakit. Setidaknya 2 bulan sekali saya sakit gigi. Gusi belakang bengkak dan juga infeksi. Nyeri rasanya ketika mengunyah makanan.

Saya pun menjadwalkan scaling sekaligus konsultasi gigi ketika mudik ke Indonesia. Maklumlah semua perawatan gigi di luar negeri mahal, dipakai untuk beli tiket pulang ke Indonesia pun bisa jadi masih sisa. Liburan akhir tahun lalu saya menyempatkan ke RSGM untuk scaling dan konsultasi gigi.

rontgen

Benar saja, gigi saya memang harus dicabut. Ga hanya satu, tapi keduanya; gigi geraham bungsu bawah kanan dan kiri. Selain tumbuh keluar, posisinya juga mendorong ke depan. Jika tidak segera dicabut, gigi di depannya akan terdesak.

Akhirnya saya pasrah untuk cabut gigi. Ketika saya menanyakan apakah bisa dicabut keduanya langsung, malah ditertawakan pak dokter gigi. “Kalau kanan-kiri sekaligus, nanti mbaknya ga bisa mengunyah,” begitu paparnya. Setidaknya diberikan jeda 1 bulan agar dapat sembuh sempurna. Dijelaskan juga bahwa setelah cabut gigi, pipi akan bengkak dan susah untuk mengunyah selama sekitar 1-2 minggu. Hindari mengunyah di bagian gigi yang dicabut untuk mempercepat penyembuhan.

Setelah mendengarkan penjelasan dari pak dokter gigi, saya putuskan untuk mencabut gigi geraham bungsu bawah kanan dahulu karena memang saya tidak pernah mengunyah di kanan. Sebelum dicabut, berkali-kali dia menanyakan, “Sudah siap?”.

Sebegitu sakit kah dicabut gigi geraham bungsu?

Pak dokter gigi ditemani dua perawat memulai cabut gigi dengan bismillah. Mulut saya menganga. Gusi saya disuntik patirasa berkali-kali sampai terasa tebal. Muka saya ditutup dengan kain layaknya operasi. Hanya bagian mulut saja yang terbuka.

Setelah patirasa bekerja, dimulailah proses pengeboran. Terdengar desiangan suara bor, membelah gigi menjadi dua bagian, depan dan belakang. Bau kapur terbakar mulai menyengat. Sesekali saya ditanya apakah sakit. Sempat terdengar juga pak dokter gigi meminta tambahan 3 bor besar ke perawat. Wkwkwksebegitu susah kah membelah gigi saya. Setelah terbelah, gigi pun dicabut satu per satu.  Tidak terasa sakit sama sekali, hanya terasa ditekan-tekan di dalam mulut.

Kemudian, kami keluar dari ruang operasi ke ruang dokter biasa. Dijelaskan lagi apa yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan selepas operasi ringan ini. Ringkasannya dapat dilihat di sini.

Obat yang diresepkan, sebaiknya segera diminum sebelum patirasa hilang. Jika tidak, akan terasa super sakit. Patirasa diperkirakan hilang setelah 4 jam. Buru-buru saya tebus dan minum obatnya.

Tetapi … ternyata tetep sakiiiiit. Pipi saya super bengkak. Belum pernah saya sakit gigi sesakit ini. Membuka mulut lebar saja susah, apa lagi mengunyah. Malamnya saya sempat muntah gegara efek samping obat tranamadol.

Si kecil Fiza pun malah suka nggodain saya. Sambil pura-pura pegang pipi saya, trus bilang “Sakiitt …”. Walaupun terkadang salah pegang pipi kiri saya, yang bengkak kan pipi kanan, Nakkk.

Oh iya, harganya cukup ramah di kantong, mungkin tergantung tingkat kesulitan juga. Untuk kasus saya, cukup enam ratus ribu sahaja. Makin setia saya sama RSGM. 🙂

Masih ada satu gigi lagi yang perlu dicabut. Yosh!!!

Berangkat Ngantor dari Jogja

Di atas hamparan awan putih, Senin 28 September 2015

Tumben saya tak bisa tidur. Biasanya sebelum lepas landas saya sudah terlelap. Di atas ketinggian 38.000 kaki saya sibuk mencari kesibukan, mencoba menghalau kebosanan.

Penerbangan QZ658 ini nampaknya akan menjadi favorit saya. Penerbangan ini berangkat dari bandara Adi Sutjipto pagi hari, pukul 7:25 dan tiba di Singapore pada jadwal 10:45. Biasanya jam 10:30 sudah mendarat. Jarak tempuh kantor dari bandara Changi cukup dekat, sekitar 10 menit naik taksi. Jadi, berangkat Senin pagi pun dari Jogja pun, Alhamdulillah, bisa langsung ngantor.

Hal lain yang membuat saya suka penerbangan Senin pagi ini adalah harga tiket yang jarang melonjak naik. Tidak seperti penerbangan Ahad atau Sabtu yang biasanya harga tiket sudah melambung di atas 1 juta kalau belinya mendadak, penerbangan Senin ini biasanya masih adem ayem di 700-800 ribu.

Oh iya, berangkat dari rumah mertua ke bandara pun sangat mudah. Cukup 10 menit naik motor diantar suami tercinta. Jam 6 pagi dari rumah pun masih cukup waktunya.

Alhamdulillah, perjalanan Jogja-Singapura tak seberat yang dibayangkan. 

*Sampai kantor langsung nempelin dua Salonpas di leher. 🙂

Tips tambahan: (1) jangan lupa web/mobile check in Air Asia, biar gak perlu antri di bandara Jogja. (2) manfaatkan automated clearance di Changi bagi yang pegang PR, LTVP atau malah Singapore citizen.

Hearing Assessment

Jumat yang lalu Fiza (23m) melakukan hearing assessment, setelah sempat dibatalkan bulan lalu karena audiometry nurse nya sakit. Sebenarnya, kalau lahir di Australia, hearing assessment pasti telah dilakukan ketika baru saja lahir. Tetapi, Fiza lahir di Indonesia, tepatnya Sleman, belum ada semacam tes pendengaran yang dilakukan sewaktu lahir. Fiza dirujuk untuk mengambil hearing assessment karena ada indikasi telat wicara. Sepertinya hearing assessment ini disebut tes audiometri, kalau di Indonesia.

Pagi itu kami sampai di Belconnen Community Health Center. Sengaja saya memilih jadwal pagi, biar Fiza masih segar bugar tidak rewel karena mengantuk. Setelah melaporkan kedatangan di resepsionis, segera kami naik ke lantai 2 menuju ruang tunggu. Tak lama kemudian, kami dihampiri oleh audiometry nurse yang dengan ramah menyapa Fiza.

Ada 2 perawat. Yang satu bertanya-tanya ke saya perihal riwayat kesehatan Fiza, dan yang satu mengajak Fiza bermain. Kata perawat, anak kecil ketika dites harus nyaman, makanya Fiza diajak main dulu sekalian pedekate. Alhamdulillah Fiza langsung mau main dengan perawat. Ah Fiza mah kalau lihat mainan baru langsung mau, ga pake segan segala. 🙂

Kami pun pindah ke ruangan sebelah, tempat di mana Fiza akan dites pendengaran nya. Cara yang mereka gunakan adalah mengajak Fiza bermain, kemudian diperdengarkan suara dengan frekuensi dan desibel tertentu. Kemudian mereka mengamati apakah Fiza memberikan respons dan kemudian menengok.

Anak seumuran Fiza sudah bisa berkonsentrasi ke suatu hal. Jadi, bisa saja Fiza tidak menoleh karena Fiza asyik main. Tetapi, ada semacam reward yang diberikan ketika Fiza menoleh, yaitu dipertontonkan boneka tangan yang lucu. Hal ini dilakukan berulang-ulang untuk frekuensi dan desibel berbeda.

Saya pikir prosedur ini cukup valid. Setiap ada suara, Fiza menoleh. Fiza senang melihat boneka tangan itu dan seketika melambaikan tangan. Ah makin menggemaskan saja tingkahmu, Nak .. 🙂

Sebenarnya tidak di semua suara, Fiza menoleh. Ada beberapa suara yang telah diperdengarkan beberapa kali, tapi Fiza tetap tidak menoleh. Sepertinya memang Fiza tidak dengar suara itu.

Setelah selesai, kami kembali lagi ke ruangan semula. Fiza kemudian dicek gendang telinganya satu per satu. Telinga Fiza dimasukkan alat yang meniupkan udara. Saya lupa nama alat itu. Lagi-lagi Alhamdulillah, Fiza nggak rewel sama sekali. Ah Ibu makin sayang, Nak … 🙂

Setelah kedua perawat berdiskusi sejenak, saya diterangkan hasil tes nya dan Fiza dibiarkan bermain. Secara umum, Fiza bisa mendengarkan suara dengan frekuensi dan desibel yang diperlukan untuk percakapan. Dengan ini, harusnya pendengaran bukanlah penyebab Fiza telat wicara.

Ada hal yang memerlukan follow up: gendang telinga kiri Fiza tidak bergetar sempurna. Hal ini dikarenakan tekanan telinga luar dan telinga dalam tidak sama. Mereka menyebutnya muffled, seperti drum yang berisi air penuh kemudian ditepuk. Gentaran tutup drum nya tidak bisa sempurna. Rasanya mirip ketika telinga kita pekak gara-gara naik pesawat. Perawat merekomendasikan untuk melakukan hearing assessment ulangan pada 6-8 minggu ke depan. Bisa jadi hal ini hanya dikarenakan Fiza sedang batuk pilek. Pada usia balita, hal ini normal terjadi sekitar 2-3 kali setahun. Kalau hasil tes ulangan nya bagus, berarti tidak perlu khawatir.

Nyopir di Canberra

Tak banyak yang tau di mana itu Canberra. Kalaupun tau, kemungkinan hanya sebatas Canberra sebagai ibudesa ibukota Australia. Jangan dibayangkan seperti ibukota kebanyakan yang padat penduduk. Canberra super sepi. Sama Jogja saja masih ramai Jogja.

Di Canberra transportasi umum yang ada kurang begitu memadai. Belum ada MRT, seperti layaknya kota besar. Yaa mungkin belum terlalu dibutuhkan. Total penduduk di Canberra per Maret 2013 saja hanya 380 ribu. Rute bus umum belum menjangkau semua daerah. Interval bus masih jarang. Ada yang intervalnya 1 jam sekali. Yah, bisa lumutan di jalan. Oleh karenanya, lebih enakan naek mobil sendiri daripada naek bus umum. Oh ya satu lagi, naek taksi di Canberra super mahal.

Oke, dengan segala pertimbangan tersebut kami memilih nyopir mobil di Canberra. Alasan lainnya, karena mobil tersedia, pinjaman dari seniornya suami. Matur nuwun. 🙂

Alhamdulillah, saya sudah pegang SIM mobil Indonesia dan Singapura. Yang SIM Singapura hasil konversi dari yang Indonesia. Gampang! Tinggal tes tertulis, lulus, langsung dapet SIM Singapura. Denger-denger SIM Singapura bisa dikonversi juga di Australia. Ah, ntar nyoba konversi juga … .

Untuk SIM Indonesia, kita tinggal melampirkan surat keterangan (semacam translasi), kita langsung boleh nyopir di Australia. Surat keterangan ini bisa diperoleh di KBRI maupun Konjen (Consulate General). Dokumen yang dibutuhkan adalah photokopi paspor, Visa, SIM, photo ukuran paspor, dan money order sebesar 25 AUD.

DSC_9159-2

Dari pengalaman saya, menyopir di Canberra sangatlah menyenangkan. Kendaraan melintas di jalur kiri dan sopir ada di kanan, sama persis dengan di Indonesia. Jalanan lebar-lebar. Rata-rata pengemudi patuh dan sopan-sopan. Rambu-rambu lalu lintas ditaati dengan baik. Berhenti di lampu merah. Bersiap berhenti di lampu kuning. Menyalakan lampu sein ketika akan belok. Memberikan sinyal ketika akan pindah jalur. Memberikan kesempatan pengemudi yang akan pindah jalur. Ah, sungguh patuh Canberrian.

DSC_9166-2

Jalanan yang lengang sungguh menggoda untuk melajukan mobil. Tapi, hati-hati kena tilang gara-gara ngebut. Satu kali tilang cukup lah membuat tabungan kering. Rambu-rambu batas kecepatan biasanya terpampang di setiap jalan. Di dalam kota biasanya 60 km/jam. Di sekitar sekolah atau daerah padat pejalan kaki 40 km/jam. Di jalan tol 80 – 100 km/jam.

Bayi dan anak-anak di bawah 7 tahun wajib secara hukum menggunakan car seat di dalam mobil, termasuk Fiza. Awalnya saya sempat cemas kalo Fiza ga betah atau nangis waktu diletakkan di car seat. Alhamdulillah, Fiza yang kalem mau didudukin di car seat. Malah dia senyam-senyum di car seat. Alhamdulillah, emaknya jadi tenang nyopirnya. 🙂

DSC_8991-2

Di tanah air kita, mungkin sabuk pengaman hanyalah sebuah hiasan. Jarang dipakai, atau setidaknya hanya dipakai pengemudi. Di Australia, sabuk pengaman juga wajib secara hukum digunakan. Tak hanya sopir, penumpang yang di belakang pun juga wajib mengunakan sabuk pengaman. Jadi, pastikan semua memakai sabuk pengaman ya sebelum menarik gas kendaraan.

Nyari tempat parkir di Canberra gampang-gampang susah. Kalau di mall-mall, mirip lah dengan di Indonesia, memakai gate otomatis. Bedanya, sebelum keluar kita harus bayar dulu di loket mesin yang biasanya terletak di sekitar pintu menuju tempat parkir.

Kalau di lahan terbuka, jangan mengharap ada tukang parkir ya. Carilah tanda parkir, dan patuhilah. Ntar bisa kena tilang gara-gara salah parkir. Di tanda parkir tersebut kita bisa tahu apakah itu lahan parkir gratis, kalau bayar berapa tarifnya, dan berapa lama boleh parkir.

Untuk daerah kota, tarif parkir satu jam biasanya 2 dollar. Dua jam 4.5 dollar, 3 jam 8 dollar, dan 4 jam 12 dollar. Mahal kan?! Kalau di pinggiran, kadang gratis. Kalaupun bayar, tarifnya murah terjangkau, misal tarif 1 jam hanya 1 dollar. Oh ya, ternyata ada website parkopedia yang menyediakan informasi lahan parkir. Lengkap euy! Ada peraturan berikut tarifnya juga.

Tiket bisa dibeli di loket parkir. Setelah membeli, tiket diletakkan di mobil. Di tiket tertera sampai kapan boleh parkir di sana. Nanti petugas di sembarang waktu akan mengecek mobil-mobil di parkir. Kalau di mobil tidak ada tiket, kena tilang deh. Oh ya, kebanyakan  loket parkir hanya menerima koin. Jadi, selalu siapkan koin di mobil ya.

Sekian dulu pengalaman saya nyopir di Canberra.
Happy driving, mate! 🙂

Bingung Puting

Akhirnya Fiza sembuh juga dari bingung puting yang sempat dialaminya selama 2 bulan. Ya, 2 bulan Fiza ogah-ogahan nenen. Cukup lah buat saya kelabakan. Segala cara dicoba. Tanya sana sini. Memang kuncinya harus sabar, ekstra sabar. Yakin bahwa pasti sembuh.

Ini semua bermula dari kurangnya ilmu saya mengenai breastfeeding atau menyusui. Saya pikir yang namanya menyusui itu reflek alami; si ibu otomatis menghasilkan ASI dan si bayi otomatis menghisap minum ASI. Ah, ternyata tidak segampang itu. Ada banyak tantangan yang bisa menghambat proses menyusui. Salah satunya adalah bingung puting ini.

Waktu itu Fiza (2.5m) sudah punya jadwal/pola menyusu yang baik. Setiap 2 atau 3 jam, Fiza rutin menyusu. Malamnya Fiza sudah ga terbangun lagi minta nenen. Dari jam 10 malam, Fiza baru bangun untuk nenen lagi waktu subuh. Alhamdulillah, senangnya sudah ga begadang lagi.

Setelah puas dengan pola menyusu Fiza, saya mencoba mengenalkan dot ke Fiza. Yaa dengan harapan kalau ditinggal, bisa minta tolong disusuin Yangti di rumah. Ah, mungkin dari niatnya saja udah melenceng kali ya.

Setelah beberapa kali nyoba, Fiza mulai jago ngedot. Awalnya dia cuman maen-maenin dot. Ga disedot, jadinya ga keluar. Setelah Fiza tau caranya ngedot, satu botol ASI isi 70mL hanya diminum dalam waktu kurang dari 10 menit.

Fiza ngedot

Tapiii … perlahan-perlahan tanpa saya sadari, Fiza lebih memilih ngedot daripada nenen langsung. Kalau siang, saya sodori nen, Fiza ga mau ngenyot. Saya pikir mungkin belum lapar. Ya sudah, saya pompa dulu nyetok di dot. Lalu, selang beberapa saat, saya tawarkan dulu ASIP  (ASI perah). Sayang kan, daripada ASIP di botol mubazir. Eh, ternyata langsung deh dihabisin. Begitu seterusnya, sampai akhirnya siang hari Fiza hanya ngedot ASIP. Kalau malam sih Fiza masih mau nenen langsung.

Pada waktu itu, sebenarnya saya tau yang namanya bingung puting. Sepertinya sekedar tau itu memang berbeda dengan paham. Saya ngeyel Fiza ga bingung puting karena Fiza masih mau nenen langsung kalau malam.

Saya mulai cemas ketika Fiza histeris nolak-nolak ketika disodorin nen. Seperti orang yang ketakutan. Akhirnya, saya mengakui kalau Fiza mungkin bingung puting. Saya kalang kabut. Tetangga saya yang bidan saya tanyain. Adek kelas saya yang juga bidan saya tanyain. Sepupu saya yang perawat saya tanyain. Teman-teman saya yang sedang menyusui pun saya tanyain juga.

Ternyata beberapa teman saya mengalaminya. Ada yang kemudian nge-ASI berhenti di usia 3 bulan, lalu disambung sufor. Ada yang menyerah kemudian e-ping (exclusive pumping) di usia 11 bulan. Ada juga yang e-ping terus dibantu sufor karena ASI kurang. Saya makin cemas. Tapi, dari sekian banyak cerita gagal yang saya dengar, ada satu cerita sukses. Sembuh dalam waktu 2 minggu dengan cara dipaksa. Saya tidak tegaaaa. 😦

Tak lupa, mbah Google pun saya kerahkan. Dengan keyword ‘sembuh bingung puting wordpress‘, saya menyakinkan diri bahwa ada banyak ibu di luar sana yang lolos dari ujian bingung puting.

Menurut dr Maharani, bingung puting dapat disembuhkan dengan relaktasi. Langkah pertama yang wajib ditaati adalah HENTIKAN DOT. Cara ngedot dan nenen itu berbeda. Bayi perlu mengeluarkan usaha yang lebih untuk nenen daripada ngedot. Makanya bayi sering keringatan kalau sedang nenen. Sedangkan ngedot, bayi hanya menghisap, memberikan efek vacuum pada dot. Ketika bayi nenen dengan cara ini, ASI tidak keluar dari payudara. Dan akhirnya, bayi sewot karena ASI tidak keluar.

Tanggal 9 September 2013, saya bertekad menghentikan dot sama sekali. Perjuangan saya dimulai. Fiza haus, tapi dia tidak mau nenen langsung. Melihat puting saja dia langsung berontak. Ketika dimasukin puting, makin histeris tangisnya. Ya Alloh, ibu mana yang tidak patah hati ditolak ma anak sendiri.

Alhamdulillah, adek kelas saya yang bidan mengenalkan saya dengan dokter umum di   puskesmasnya yang juga dokter laktasi. Beliau memberikan pengarahan kepada saya bagaimana menyusui yang baik. Beliau pun menyarankan untuk meningkatkan skin-to-skin contact. Daannn, banyak bersabar. Beliau terus memberikan semangat untuk nge-ASI.

Beliau juga yang mengajarkan cara memberikan ASIP dengan sendok. Sebelumnya saya mencoba pake cup feeder, seperti yang terlihat di bawah ini. Tapi, pada tumpah-tumpah. Ternyata, ada tekniknya. Kalau pakai sendok, sendok ditempelkan di bibir atas. Kemudian, dedek menghirup ASIP. Kalau pakai cup feepder, posisi lidah berada di atas gelas, yaitu masuk ke dalam cup feeder. Kemudian, dedek mengambil ASIP pakai lidah.

cup feeder

Berbagai gaya menyusu saya coba. Nenen sambil digendong. Nenen sambil diayun-ayun. Nenen sambil tiduran miring. Nenen sambil berdiri. Sampai, nenen sambil telentang. Yangti sampai geleng-geleng melihat tingkah ibu dan anak ini. Mau nenen aja kayak orang mau berantem.

Jurus yang paling jitu bagi Fiza adalah nenen sambil tidur. Saya buat Fiza mengantuk sampai tertidur, kemudian saya susui. Alhamdulillah, Fiza masih mau. Tentunya dengan teknik ini, frekuensi nenen Fiza tergantung dari tidurnya. Oalah Nak, kalau bayi-bayi nenen terus bablas tidur, ini kamu malah tidur dulu baru bisa nenen.

Satu hal yang perlu diperhatikan ketika bingung puting adalah pastikan asupan ASI-nya cukup. Hal ini ditandai dari jumlah BAK (Buang Air Kecil) yang lebih dari 6. Sejak itu pula saya rajin pakai prefold** daripada pake clodi. Setiap hari saya hitung jumlah BAK Fiza. Setiap Fiza pipis, saya kegirangan. Saya ganti popoknya dengan hati riang gembira bak menang hadiah.

Selain frekuensi BAK, kecukupan asupan ASI bisa juga dilihat dari kenaikan berat badan, setidaknya 500 gram setiap bulannya. Alhamdulillah, Fiza kenaikan berat badannya masih di batas normal.

Dua bulan bukanlah waktu yang cepat. Konsentrasi saya berpusar pada bagaimana caranya menyembuhkan bingung putingnya Fiza. Lelah itu ada. Frustasi itu kadang timbul. Perasaan bersalah itu pun kadang menghantui. Alhamdulillah, saya berada di lingkungan yang pro-ASI.

IMG-20131226-WA0011-1

Akhirnya, di usianya yang 5 bulan Fiza mau lagi nenen. Masya Alloh, senangnya bukan kepalang. Kau telah kembali ke pelukan Ibu, Nak!

GDM – Gestational Diabetes Mellitus

Menginjak trimester ketiga di bulan April yang lalu, saya disarankan oleh dokter kandungan saya untuk mengambil test gula darah yang bernama resmi OGTT (Oral Glucose Tolerance Test), mengingat kedua orang tua saya (bapak dan bapak mertua) mempunya riwayat gula. Test ini berfungsi untuk mengetahui apakah saya menderita gestational diabetes mellitus. Walaupun saya tidak kena diabetes mellitus, tapi selama kehamilan terutama trimester akhir mungkin saja saya menderita gestational diabetes mellitus, yaitu diabetes mellitus yang hanya terjadi selama kehamilan saja.

Test diambil sewaktu usia kehamilan 29 minggu di Thomson Medical Center (TMC), seharga 35 Singapore Dollar sebelum GST. Untuk mengambil test ini saya diharuskan puasa selama minimal 8 jam. Jadi, saya datang pagi-pagi jam 9 di TMC. Setelah registrasi, darah saya diambil sebanyak satu tabung kecil. Kemudian, saya diberikan satu botol cairan gula 75 grams berasa jeruk. Perawat pun lalu menyuruh saya istirahat menunggu selama 2 jam, dan segera memberitahunya apabila saya merasa pusing atau mual. Tepat setelah 2 jam, darah saya diambil lagi satu tabung kecil. Saya pun dipersilahkan pulang, sedangkan hasil test akan dikirim langsung ke dokter kandungan saya.

Sorenya, saya mengirim email ke dokter kandungan saya untuk menanyakan hasilnya. Alhamdulillah, hasilnya dinyatakan bagus. Gula darah saya normal.

Fasting: 4.4 mmol/L == 79.2 mg/dl
2 hours: 7.6 mmol/L == 136.8 mg/dl

Note: 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Sumber konversi: http://www.onlineconversion.com/blood_sugar.htm

Setelah saya hijrah ke Jogja, saya mengunjungi ke RSIA Queen Latifa untuk memeriksakan kandungan. Berdasar pengukuran USG, berat janin di usia kandungan saya yang baru 34 minggu diperkirakan 2.6 kilo; Agak terlalu besar untuk umur sekian. Sehingga dokter pun menyarankan saya untuk test gula darah lagi (GTT == Glucose Tolerance Test). Dokter juga mengatakan bahwa test dapat dilakukan di  laboratorium klinik mana saja dengan menyertakan surat rujukan darinya. Ada beberapa lab di Jogja yang saya tau: Cito, Hi Lab, Pramita Lab, dan Parahita.

Senin pagi saya datang ke Pramita Lab yang beralamatkan di Jalan Cik Ditiro no. 17, Yogyakarta dengan nomer telpon (0274) 550526. Letaknya di antara Gramedia dan Bundaran UGM, sebelah barat jalan.

Setelah melakukan registrasi dan pembayaran sebesar 170 ribu rupiah, saya antri menunggu nama saya dipanggil untuk test. Prosedur test kali ini agak berbeda dengan test gula darah yang pernah saya lakukan di Singapura. Selain darah, perawat juga mengambil urin saya. Selain itu, sebelum diberikan cairan gula 75 gram, hasil tekanan gula darah saya harus benar-benar normal. Dan, pengambilan sampel darah dan urin dilakukan lagi sebanyak 2 kali dengan jeda masing-masing 1 jam. Hooo, mungkin ini yang bikin mahal kali ya. Tiga kali ambil sampel, pake urin segala pula.

Alhamdulillah, hasilnya tetap normal; Tidak ada indikasi gestational diabetes mellitus.

Darah Puasa: 69 mg/dL  — (Nilai rujukan: 70 – 110 mg/dL)
Darah 60 menit SM: 161 mg/dL  — (Nilai rujukan: 120 – 170 mg/dL)
Darah 120 menit SM: 124 mg//dL  — (Nilai rujukan: < 140 mg/dL)

Alhamdulillah, dengan begitu saya tidak perlu terlalu memusingkan asupan karbo maupun gula. Yay!!

*Sehat-sehat ya dedek di dalam. Jangan terlalu gedhe juga, nanti ibu susah ngeluarinnya. 🙂

Tiket Gratis Singapore-Jakarta

Alhamdulillah … akhirnya pernah juga dapet yang namanya tiket gratis. 🙂 Sebenernya dalam bentuk voucher sih, tapi tetep aja 1 voucher seharga 500 ribu rupiah ini bisa dituker tiket gratis Singapore-Jakarta tanpa keluar sepeser pun.

Bagaimana bisa dapat voucher ini?

Waktu itu lagi beli tiket Jetstar buat suami. Setelah mengecek di traveloka.com, kami memutuskan untuk beli tiket dari Jetstar. Terbang hari Jumat tanggal 15 Maret 2013 pukul 10 malem. Cocok dengan kebutuhan suami saya yang PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Harga pun masih tergolong murah, di bawah 500 ribu rupiah.

Saya pun mencoba booking online melalui website resminya. Tetapi, sesampai di pembayaran gagal. Saya ulangi lagi, masih juga gagal. Kemudian, saya telpon customer servicenya. Di seberang sana telpon dijawab dengan ramah berlogat khas pinoy. Dia menawarkan untuk membantu membelikan tiket, dan sebagai bonus akan diberikan voucher seharga 500 ribu rupiah. Wah, mau sekali!

voucher-jetstar

Harga tiketnya sedikit lebih mahal. Saya protes. Dia menenangkan kalau saya akan dapat voucher seharga 500 ribu rupiah yang bisa dipakai pada pembelian selanjut. Saya pun mengiyakan. Data-data kartu kredit pun saya berikan. Pembelian berhasil.

Selang beberapa menit, saya mendapatkan email tentang bukti transaksi pembelian tiket.  Tak berapa lama, email tentang voucher yang dijanjikan kepada saya pun tiba. Yay, dapat 500 ribu rupiah!

Pagi tadi, suami mengingatkan untuk beli tiket balik Singapore-Jakarta. Sebelumnya kami pernah mengecek di traveloka.com, kalau harga tiket paling murah untuk hari Ahad tanggal 17 Maret 2013 adalah 750 ribu rupiah. Tiba-tiba, saya melihat tiket itu sekarang menjadi 331 ribu rupiah, dan diberi tanda “sale”. Wah, alhamdulillah, vouchernya bisa dipake tanpa perlu menambah pembayaran sendiri.

Suami segera saya hubungi lewat GTalk. Jetstar ada sale untuk tanggal 17 Maret 2013 penerbangan jam 3:30 sore. Setelah suami menyetujui, saya langsung membeli tiket tersebut mengunakan voucher. Setelah saya hitung-hitung, saya masih bisa membeli bagasi 20 kilo dan memilih kursi.

Alhamdulillah, ini rejekinya dedek, bisa sering-sering dijenguk bapaknya.

KL Trip (2)

Bulan lalu, saya dan suami pergi bertemu di Kuala Lumpur. Dan seperti biasanya, sebelum kedatangan, saya sibuk mencari akomodasi di sana. Berhubung waktu kami yang singkat di sana dan saya sedang hamil, saya usahakan mencari hotel yang dekat dengan KL Sentral. KL Sentral ini pusat dari berbagai moda transportasi di Kuala Lumpur; mulai dari bus, monorail, LRT sampai dengan train. Harapannya, ini akan memudahkan kami untuk menjelajahi berbagai penjuru Kuala Lumpur.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah kemudahan akses menuju bandara. Dari KL Sentral ada transport langsung dari/menuju bandara, baik bus (AeroBus dan SkyBus) maupun kereta (KLIA Express). Perjalanan dengan kereta hanya ditempuh dalam waktu 28 menit, sedangkan bus membutuhkan waktu setidaknya 1 jam. Harga tiket kereta adalah 35 Ringgit Malaysia, dan harga tiket bus hanya 10 Ringgit Malaysia.

Yaaa seperti peribahasa Jawa: Ono rego, ono rupo. Yang kurang lebih artinya kalau harganya murah, jangan berharap lebih. Sebenarnya kualitas busnya sudah OK. Tapi, terkadang jadwal keberangkatan bergantung pada jumlah penumpang.

Seperti yang saya alami waktu jalan-jalan kemarin ini. Sejak awal saya memang ingin naik bus. Lebih murah. Jadi, setibanya di bandara KLIA, saya langsung menuju terminal bus. Waktu sudah menunjukkan pukul 9:20 malam, dan terminal pun telah sepi penumpang. Segera saya hampiri loket pembelian tiket. Saya bertanya kapan bus selanjutnya berangkat. Kata petugas, baru pukul 10:30 bus akan berangkat.  Waduh, telat benar. Setidaknya pukul 11:30 malam saya baru akan tiba di KL Sentral. Saya pun berputar haluan menuju stasiun kereta. Saya langsung  beli tiket dan naik ke gerbong. Alhamdulillah, kereta yang saya tumpangi langsung berangkat. Pukul 10 malam saya sampai di KL Sentral. Memang harga tiket jauh lebih malah. Tapi, bisa-bisa saya kemalaman sampai di KL Sentral kalau saya kekeuh naik bus.

Akomodasi yang kami pilih adalah My Hotel yang terletak di KL Sentral. Sebelumnya, saya sudah melakukan booking secara online. Saya sempat dibuat bingung karena ada beberapa cabang My Hotel di KL Sentral. Setidaknya ada tiga: My Hotel @Sentral, My Hotel @KL Sentral, dan My Hotel @Brickfields. Ketiga lokasinya berdekatan. Awalnya saya pikir @Sentral dan  @KL Sentral merujuk pada hotel yang sama. Ternyata bukan. Hotel yang saya mau adalah My Hotel @Sentral. Letaknya sangat dekat dengan terminal bus KL Sentral.

Pernah pagi hari saya dan suami berjalan-jalan di sekitar hotel. Kami melihat ada banyak hotel di sekitaran. Tapi, menurut kami, pilihan kami yang terbaik. Selain lokasinya yang strategis, walaupun minimalis, nampak luar hotel kami terlihat bersih dan baru. Kami puas. Apalagi kami dapat kamar triple, karena kamar double nya habis. Alhamdulillah. Mungkin dedeknya yang di dalam minta jatah kamar juga kali ya. 🙂

Sekian tips jalan-jalan di KL dari kami. Semoga bermanfaat. Met jalan-jalan!